Rabu, 30 April 2014

Cerita Hantu - Tulang

 












MENDUNG tebal menghiasi dusun kramat yang hanya dihuni segelintir kepala keluarga yang terletak tak jauh dari hutan rimba yang cukup populer akan keganasannya, gemericik air hujan pun mulai terdengar malam itu menyusuri pohon-pohon besar dengan dedaunan yang semrawut tak karuan menuju ranting yang nampak melintang ke sana ke mari tak tentu arah, hembusan angin malam pun turut nimbrung di dalamnya, suara burung hantu hendak berteduh tak henti-hentinya bernyanyi, semakin mendekati telinga.

Terasa bulu kuduk pun menggeliat bangun, seolah mengingatkan Jiwo untuk selalu waspada akan keselamatan jiwanya, teringat akan kematian Ranti, sang janda kembang yang syarat kedendaman ketika sang maut menjemputnya, berjarak sekitar 100 meter arah selatan rumah Jiwo, maut pun mendadak menghampiri Mbah Bero tiga puluh lima hari kemudian dengan tragis sekaligus mengerikan. Jiwo sekan ikut bersalah atas kematian keduanya.

Sesaat, ia pun melongokkan kepala lewat jendela rumah bambu miliknya, bola matanya berlari ke sana - ke mari melihat suasana di luar rumah begitu mencekam dan menakutkan, terasa ada kekhawatran yang mendalam pada dirinya, apalagi kematian Mbah Bero, yang sulit diterima akal sehat manusia di malam Jum'at Kliwon. Malam Jum'at Kliwon itu menjadi saksi bisu atas kematiannya.

“Akankah kuharus menyusul Mbah Bero di malam Jum'at Kliwon ini,” gumamnya dalam hati bergejolak tak karuan. “Aku harus tetap hidup sampai ajal menjemputku dengan cara yang normal,” berontak dalam hatinya tiada henti.

Malam pun terus merangkak, Jiwo mencoba memaksa matanya dipejamkan namun tak bisa, hanya tubuhnya yang nampak terhempas di tempat tidur yang terbuat dari bambu. Di dalam kamar yang berukuran 3X4 meter itu terlihat lukisan Nyi Roro Kidul menunggang kuda putih mendominasi sisi samping kamarnya, selain tergantung pula tiga buah keris berukuran sedang terbungkus kain merah dilekatkan pada gedhek (anyaman bambu) dinding rumahnya. Badan besar nan kekar Jiwo pun serasa tak dapat menghalau kekacauan dalam hatinya, detak jantung terpacu cepat, pikirannya terus melayang, mengembara dan tiba-tiba terlintas di benaknya kata-kata terakhir Ranti, sang pujaan hati penuh permohonan.

“Mas Jiwo, jangan kau lakukan ini walau kuakui aku sangat mencintaimu,” pinta Ranti sambil menutupi sebagian tubuhnya yang terlihat dengan baju yang sudah compang-camping ulah bejat Mbah Bero.

“Janganlah kau turuti omongan dukun biadab itu, akan kubalas semua perbuatannya Mas, meski aku tahu dukun itu gurumu,” rontanya dengan nada suara lirih terlihat menahan sakit, sambil memegangi tangan Jiwo yang nampak bingung memutuskan, apakah akan menuruti kata sang dukun gurunya atau permohonan Ranti sang kekasih tercinta, hatinya berkecamuk di antara keinginan untuk menyempurnakan ilmunya yang mengharuskan menyetubuhi Ranti, begitulah petuah sesat sang dukun kepada Jiwo. Terlihat jelas di mata Jiwo kala itu, Mbah Bero semakin ganas melahap Ranti yang sudah tak berdaya, sebelum akhirnya Ranti menghembuskan nafas pamungkasnya di pangkuan Jiwo, tapi apa daya.

Tak terasa oleh Jiwo suara ayam berkokok mulai terdengar, membuat hati Jiwo sedikit lega dapat melalui malam Jum'at Kliwon dengan aman, minimal hingga sepertiga malam meski kekhawatiran masih menghantuinya. Tiba-tiba terdengar suara seseorang mengetuk pintu.

Thok.. thok.. thok.., ”Wo, Jiwo” panggilnya nampak tergesa-gesa. Jiwo nampak kaget dan membiarkan sejenak panggilan itu sambil mencoba mengenali suara yang memanggilnya itu.

“Wo.. Jiwo.. Aku Karni,” seru sang ketua RT yang juga teman akrab Jiwo. Mendengar itu, Jiwo langsung mengambil sandalnya dan segera menuju pintu dan membukanya, krekk ...

“O.. Kamu to Ni,” kata Jiwo sambil mempersilakan Karni masuk, dengan segera Karni pun masuk dengan deruman nafas yang terengah-engah seakan-akan kehabisan O2 dalam paru-parunya karena harus berlari cepat sekitar 500 meter hendak menemui teman karibnya ini, khawatir. Seketika Karmi pun menempatkan pantatnya di satu kursi agak reot yang terbuat dari bambu Jawa, lantas meneguk air kendi yang biasa diletakkan Jiwo di sebelah kursi reot itu.

“Apa kamu semalam tidak mendengar suara-suara aneh Wo?” tanya Karni serius.

“Suara apa yang kau maksud, Ni?” timpal Jiwo menanggapi antusias.

“Ah kamu ini kerjaannya tidur aja Wo,” ledek Karni sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, tak tahu kalau sebenarnya Jiwo justru tak sempat memejamkan matanya walau sesaat, merasakan malam begitu mencekam dan mengerikan, lantas Jiwo menceritakan ketakutannya, Karni nampak mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju sambil mengatur nafasnya yang masih sedikit ngos-ngosan.

“Terus, gimana kelanjutannya,” tanya Jiwo penasaran, Karni lantas menceritakan kejadian yang dilihat dan didengarnya semalam, saat ia hendak ke sungai yang bersebelahan dengan kuburan Dusun Keramat untuk mengambil air wudlu. Dan, jelas terlihat oleh Karni kuburan Ranti terbelah dan mengeluarkan asap tebal disertai bunyi dentuman kecil sebelumnya, kejadian itu persis saat menjelang kematian Mbah Bero, mantan guru Karni juga. Karni terus berupaya meyakinkan Jiwo akan aliran yang dianut oleh gurunya adalah sesat yang menyesatkan. Mereka bercerita panjang-lebar atas semua peristiwa aneh yang menimpa dusun keramat, sampai akhirnya pagi menyongsong mereka untuk meladang.

Suasana pagi kurang cerah menyelimuti Dusun Keramat, kicauan burung yang biasanya bernyanyi bersahutan mulai enggan bersuara, hanya hembusan angin yang terdengar menggoyang pohon besar yang nampak angkuh dan nampak muram, mengurangi kegairahan warga untuk segera meladang, terlebih lagi si Jiwo yang nampak lusuh dan kusut, ia pun memutuskan untuk menemui seseorang di kampung seberang untuk meminta bantuan saran atas semua kejadian yang menimpa Ranti, Mbah Bero dan dirinya, atas saran Karni.

Seminggu setelah kepegiannya itu, Jiwo menampakkan perubahan yang mencolok, ia pun rajin menunaikan shalat 5 waktu dan setiap malam sehabis shalat Isya, terdengarlah alunan ayat-ayat Al Qur'n yang indah menghiasi rumahnya walau dengan nada terbata-bata, Jiwo seakan menyadari akan ketololannya dan memohon ampun atas semua perbuatan dosa yang selama ini dilakukan bersama gurunya, Mbah Bero itu.

Nampak wajah Jiwo bersinar, menampakkan cahaya kemuliaan yang selalu menyinari relung hatinya dari kegelapan. Kehidupan yang penuh kepasrahan, ketulusan dan kemurnian pun akhirnya dilaluinya. Karni bersyukur melihat semua perubahan yang terjadi atas diri Jiwo, teman akrabnya ini, ia pun lantas teringat akan dirinya yang mengalami hal serupa, sebelum akhirnya ia mendapatkan hidayah untuk segera meninggalkan aliran sesat itu.

Hari demi hari dilalui Jiwo dengan keyakinan yang pasti akan kebesaran yang Kuasa meliputi langit dan bumi tanpa terkecuali, kalaupun toh ajal menjemput, ia pun rela dan siap kapan pun saat itu akan datang.

Malam Jum'at Kliwon pun tiba lagi, seperti hari sebelumnya, setelah shalat Isya, Jiwo langsung mengambil Al Qur'an sekaligus terjemahannya untuk segera dibaca dan mencoba menghayati arti yang terkandung di dalamnya, selang 30 menit berlalu, ia pun menyudahinya dan langsung duduk di sudut ruangan tamu sambil meminum segelas teh manis yang dibuatnya. Tanpa terasa, malam pun semakin larut, situasi yang hening, sunyi membawa pikiran Jiwo terbang ke angkasa mengembara tak sadarkan diri setelah seharian ia meladang.


“Mas Jiwo, aku datang, Mas.. Aku datang..." suara seorang wanita memanggil namanya.
“Ka..mu..si..si..apa..?” sergah Jiwo gugup sambil matanya berkeliling melirik ke sana ke mari mencari asal suara itu.

“Apa kamu benar sudah melupakanku .. ?” Tanya suara itu balik bertanya. Meski situasi tegang, Jiwo tak pernah lupa akan pemilik suara itu.

“Aku takkan pernah bisa melupakanmu Ranti, walau dirimu telah tiada” tegas Jiwo dengan mantapnya.

“Maafkan aku Ranti,” pintanya menyela.

“Mas, apa yan telah kau perbuat bersama dukun cabul itu takkan pernah bisa kumaafkan, setelah kuhabisi dukun itu sekarang tibalah giliranmu, Mas,” kata Ranti mengancam.

“Ranti…dengarlah penjelasanku dulu..setelah itu, barulah bunuh aku,” ronta Jiwo meminta sambil menjelaskan semua kebejatan dan akal bulus Mbah Bero. Dengan dalih menyempurnakan ilmu, Mbah Bero pun menyetubuhi setiap korbannya sebelum akhirnya mengambil satu tulang rusuk korban sebagai jimat. Dan, tulang rusuk itulah yang menancap di dada Mbah Bero saat kematian menjemputnya.

Warga Dusun Keramat yang hanya segelintir itu sebenarnya mengetahui semua tindakan Mbah Bero yang telah menelan beberapa korban, namun mereka selalu diam karena ketakutan akan ancaman Mbah Bero yang memang terkenal cukup sakti di Dusun Keramat, sampai pembalasan Rantilah yang mengakhiri segala kebejatan Mbah Bero.

Tiba-tiba ...

“Jleb..!” tulang rusuk itu pun akhirnya menembus dada Jiwo pula, kalimat syahadat terdengar dari mulut Jiwo yang ternganga, darah Jiwo pun mengalir deras, sederas air yang mengalir dari atap rumah Jiwo yang bocor karena hujan lebat yang terjadi malam itu, tepat mengenai dada Jiwo yang nampak terlelap pulas di kursi ruangan tamu, ia pun kaget dan membelalakkan mata seketika…

“Astagfirullah!” ucapnya setelah menyadari bahwa dirinya hanyalah bermimpi di malam Jumat Kliwon itu, waktu menunjukkan jam tiga dini hari, bergegaslah ia ke sumur mengambil air wudlu untuk melakukan shalat Tahajud. Sampai akhirnya Jiwo pun tetap selamat dari pembalasan Ranti di setiap malam Jum'at Kliwon berikutnya. (F.804/5887)R.47



Sumber

6 ulasan:

  1. https://www.wattpad.com/story/74708924-si-manis-jembatan-ancol-reborn

    BalasPadam