Selasa, 22 April 2014

Kelambu Sebagai Pelindung Angin Jahat dan Mahluk Halus

Pernahkah anda tidur di dalam kelambu? Pertanyaan ini mungkin lucu bagi sebagian orang kota yang memiliki rumah dengan kamar-kamar yang tidak dapat dimasuki oleh nyamuk. Tetapi tahukah anda jika kelambu selain berfungi sebagai alat untuk melindungi tubuh dari gigian nyamuk, juga melindungi raga dari serangan santet, teluh, guna-guna dan berbagai angin jahat lainnya.

Bagi yang tidak biasa tidur didalam kelambu, pada awalnya pastilah merasakan gerah dan merasa terhimpit bak didalam penjara. “Like in the prison,” ujar teman bule Denmark dan Spanyol yang sempat menginap di sebuah penginapan suku Dayak di Tanjung Isuy, Kutai Barat, Kaltim.
Menurut kakek nenek saya, hantu dan mahluk jadi-jadian tidak dapat masuk dan menembus sebuah kelambu yang terpasang,  apalagi setiap ujung kelambu dan kain kelambu yang menjuntai disisipkan (dirapikan) dibawah kasur.
Untuk lebih aman dari serangan ilmu gaib aliran hitam, tidak jarang  di dalam kelambu sering digantung buku Surah Yasin, atau jimat-jimat dalam bahasa arab yang diambil dari potongan ayat suci Al Quran bagi yang beragama Islam. 
Atau tergantung satu-dua duri bulu landak dan daun pohon bidara yang berduri dan menjalar,  yang banyak terdapat  di dalam hutan Kalimantan.Itulah cara yang dipakai oleh  masyarakat Kutai dan Dayak. Karena mereka yakin duri landak dan pohon bidara sangat ditakuti oleh hantu-hantu yang dapat menampakkan wujudnya apda malam hari.

Bagi orang asal Banjarmasin atau orang Banjar seperti saya, nenek sering menganjurkan untuk menyelipkan bawang merah tunggal dan bawang putih tunggal di bawah kasur untuk menangkal Hantu Kuyang penghisap darah!
Begitu pentingnya kelambu  yang tidak saja sebagai penangkal nyamuk malaria jika berada di hutan dan pedesaan, kelambu memiliki arti magis untuk mengamankan raga yang sedang “mati suri” dari serangan dan gangguan mahluk halus.
Bahkan dari beberapa sumber, orang yang tidur dalam kelambu pada malam hari selalu aman hingga pagi menjelang. Kenapa? Alasannya adalah, para tetua dahulu meyakini bahwa angin buruk seperti kiriman ilmu parangmaya, sihir, guna-guna  dan munculnya perwujudan hantu, tidak dapat menginjak tanah.
“Hantu dan ilmu hitam lainnya hanya melayang diatas 50-80 centimeter diatas tanah. Itulah pada masyarakat kampung, mereka  sering tidur hanya beralaskan kasur di lantai tanpa ranjang. Kalaupun ada ranjang, tingginya tidak lebih dari 50 centi meter,” ujar salah seorang tokoh pemerhati budaya Kaltim, Johansyah Balham.
Dari sisi psikologis dan kesehatan, selain menangkal virus deman berdarah dan malaria yang berasal dari gigitan nyamuk, kelambu mampu “mempersempit pandangan” saat seseorang merebahkan diri. Akan muncul pikiran macam-macam, terutama tentang rasa takut akan hantu,  jika pandangan sangat lebar di dalam kamar. Apalagi kini banyak orang memiliki kamar yang luas dan sangat luas hanya untuk tidur sendirian atau hanya berdua suami-istri saja.
Itulah sedikit cerita tentang kelambu, yang bagi sebagian orang hanya peralatan tidur kuno dan merepotkan karena harus dipasang atau dalam bahasa setempat “digantung” sebelum tidur dan dirapikan sesudah pagi tiba.
Bagi saya, tidur didalam kelabu saat ini bagai menjadi “pengantin baru”. Karena, setiap pasangan yang akan menikah, selalu menyertakan ranjang beserta kelambu sebagai salah satu syarat maharnya. 
Apalagi kelambu saat ini bentuk sebuah kelambu tidak lagi kuno layaknya kain berbentuk persegi panjang saja. Tetapi kelambu dapat ditemui dengan bentuk yang sangat modern dan sesuai dengan ruangan. 
Jadi tunggu apa lagi? Bagi anda yang sering sakit-sakitan dan susah tidur karena selalu was-was, maka biasakanlah untuk esok tidur di dalam kelambu.(yuliawan andrianto, dari cerita nenek/foto-foto:ist dari blog tetangga)
 

Tiada ulasan:

Catat Ulasan