Jumaat, 18 April 2014

Malam Jumat ke 13


Aku gak butuh kamu, aku bisa mengurusnya sendiri” ucap lelaki paruh baya itu
“ck, jangankan mengurusnya menyempatkan waktu untuk dia saja kau tak pernah” jawab seorang wanita dengan wajah merah padam
“Kau itu ibunya seharusnya kamu punya lebih banyak waktu untuk menjaganya”
“Aku juga punya kerjaan jadi tak bisa terus menerus menjaganya, kamu kan juga orangtuanya jadi kau punya hak yang sama untuk meluangkan waktumu agar bisa bersamanya”
“dengar ya aku itu sudah sibuk dengan pekerjaanku, lagi pula hasilnya untuk siapa? Untuk kamu untuk anak kita”
“sepertinya sekarang kau tak perlu mengurus kami lagi, karena kami akan segera pergi” wanita itu kini meninggalkan laki-laki itu sendiri bersama amarahnya.

Aku mengamati mereka dari ambang pintu dangan hati yang menahan kekecewaan, bosan sekali aku mendengar pertengkaran mereka seakan tak pernah ada habisnya.
Kenalkan aku Bintang umurku saat ini 16 tahun umur yang terlalu muda untuk menerima penderitaan ini. Rumah? Tempat yang bagaikan neraka untukku, tak pernah ada kedamaian di dalamnya. Aku tak pernah mengerti apa yang mereka selalu ributkan, mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka, menuntut satu sama lain agar menyempatkan waktu untuk menjagaku.
Di tempat ini aku berusaha membuang semua rasa lelah, amarah, kecewa, benciku pada kedua orangtuaku. Hanya ini satu-satunya tempat yang ‘mungkin’ bisa membantuku melupakan kontroversi hidupku. Bukit ini akan menjadi saksi bisu atas pedihnya kehidupanku.
Kini matahari telah kembali ke peraduannya menyelimuti bumi ini dengan kegelapan malam yang khas.
“Apa Dewa Neptunus sedang menghukumku? Kenapa aku harus dilahirkan di keluarga ini? Aku butuh keluargaku yang utuh. Aku gak butuh uang yang selalu mereka cari. Aku ingin kasih sayang mereka”

Aku menangis berbaring di rumput ditemani ilalang yang tumbuh subur di sekitar bukit ini menatap langit dan mengharapkan sang bintang dapat menjawab semua pertanyaan di kepalaku. Memang terlalu lemah untuk seorang laki-laki menangis terisak seperti ini tapi hanya inilah yang akan membantuku meringankan rasa sesak di dadaku. Tiba-tiba dentingan keras yang memekakan telinga menyeruak menganggu indra pendengaranku. Sedetik kemudian muncul sesosok makhluk bertubuh yaiks tak bisa kujelaskan membawa lentera di tangannya.
Nafasku tercekat melihat sosok itu.

“Aku tahu siapa kau sebenarnya wahai anak muda, dan aku yakin saat ini kau butuh bantuan untuk menyatukan kembali keluargamu yang telah di ujung tanduk itu” sosok itu berucap. Aku segera menghapus air mataku “Kau? Kau tau masalahku?”
Makhluk itu lalu tertawa kemudian berhenti seketika, ck makhluk yang aneh.
“Setidaknya kau lebih beruntung dariku, walau keluargamu sering bertengkar tapi mereka selalu berusaha menyempatkan waktunya untukmu” Makhluk itu kini duduk di sampingku tanpa memperdulikan jantungku yang hampir lepas dari singgasananya “Bahkan aku tidak tahu siapa orangtuaku. Aku ingin merasakan kasih sayang dari seorang ibu” lanjut makhluk aneh itu dengan ekspresi yang terlihat bersedih. Entah angin dari mana aku berkata “Bagaimana kalau kita bertukar kehidupan, aku ingin bebas sepertimu merasakan hidup tak pernah ada masalah dengan sosok orangtua” dia berdiri menimbulkan bunyi gemerincing lonceng dari kalungnya
“Kau yakin dengan itu?” katanya bersemangat
“ya”
“baik kalau gitu, aku janji setelah malam jumat ke 13 dimulai dari hari ini aku akan menyatukan keluargamu kembali”
“Berarti kita akan kembali seperti semula pada malam jumat ke 13?” jin itu mengangguk
“Oke di kalender hp ku saat ini menunjukkan tanggal 8 yang berarti sekarang malam jumat ke 9 di tahun ini, dan malam jumat ke 13 jatuh pada tanggal 22 dimana aku akan kembali seperti semula?” tuturku dijawab dengan anggukan olehnya.
“Aku Jin Tomang, panggil saja aku Umang” katanya mengulurkan tangan padaku
“Aku Bintang”
“Sekarang tutup matamu, dan jangan kau buka sampai ada bunyi denting lonceng” aku mengiyakan, sedetik kemudian ia melakukan sesuatu yang tak ku mengerti, membaca mantra dengan cepat tersirat kata Neptunus di dalam kalimat itu. Tiiinngg!!! “akkhh” teriakku merasa terganggu dengan suara denting itu. Kemudian aku segera membuka mata dan pemandangan aneh mengejutkanku. Aku melihat tubuhku berdiri di hadapanku sendiri, dengan perasaan takut aku memperhatikan tubuhku saat ini, mulai dari ujung kaki sampai bagian yang dapat terjangkau oleh mataku. Aku bergetar melihatnya, kakiku menjadi sebesar gajah, perutku menjadi buncit dan kepalaku tak ditutupi sehelai rambut pun. Aku merasa jijik dengan tubuhku sendiri ‘Tak apa Bintang ini demi keluargamu’ kataku menyemangati diriku sendiri.
“hahaha aku menjadi manusia dan akan mendapatkan keluarga, oh ya bintang kau harus tahu saat ini tak ada seorang pun yang dapat melihatmu kecuali aku” kata tubuhku sendiri.. tidak itu Umang.

Aku memandang sekeliling berbagai makhluk aneh berkumpul di tempat ini. Mulai dari Wanita cantik tapi sayang matanya tak ada, makhluk berbadan setengah, makhluk bermata merah dengan badan berbulu dan hitam besar, anak kceil dengan kepala botak dan masih banyak lagi, leherku tercekat tak dapat berkata apapun melihat pemandangan ini. Umang masih tertawa bahagia di dalam tubuhku
“Umang siapa mereka?” tanyaku di tengah ketakutan yang tengah melanda diriku
“Jangan takut mereka itu sama sepertimu, dan jangan khawatir mereka tak akan melukaimu” jawab Umang lalu berlalu pergi meninggalkanku sendiri

Setelah perjanjian itu dibuat aku merasa sangat bebas walaupun aku merasa kecewa dengan bentuk tubuh seperti ini, setidaknya aku bisa bahagia tanpa memikirkan masalah dengan orangtuaku
Malam Jumat ke 10
Entah apa yang Umang lakukan pada keluargaku yang jelas malam ini Umang datang ke bukit menemuiku, ya memang aku selalu akan berada disini saat malam tiba ya walaupun sesekali aku akan pergi ke kota jika sedang bosan. Umang memberitahuku bahwa orangtuaku tak jadi bercerai. Aku senang mendengar penuturan Umang hari ini. Ia bercerita banyak mengenai keluargaku.

Malam Jum’at ke 11
Sudah tiga minggu aku menjadi seorang Jin, bosan juga rasanya tak memiliki keluarga dan teman. Tapi kabar baik selalu datang dari keluargaku. Semakin hari mereka semakin harmonis, dan lagi-lagi umang bercerita mengenai kedekatannya pada keluargaku yang semakin akrab. “Aku senang jika sedang berkumpul dengan keluargamu, ternyata mereka adalah sosok yang perhatian. Beruntung sekali kamu bisa memiliki orangtua” tutur Umang ketika bercerita. “Aku selalu merindukan sosok mereka yang seperti itu” lirihku pada Umang yang hanya bisa menepuk bahuku pelan, berusaha memberi energy positifnya padaku

Malam Jum’at ke 12
Malam Jum’at di Minggu ini aku memutuskan untuk datang ke rumahku, memperhatikan keluargaku yang tengah berkumpul di ruang keluarga. Umang duduk di antara Mama dan Papa, terlihat bahagia sekali mereka.
“Mamah ada kabar baik loh” Suara mama memecah kesunyian
“Apa?” ucap Umang
“Kamu sebentar lagi jadi seorang kakak” kata mama mencubit hidung Umang, aku turut senang mendengar kabar bahagia itu, tak sabar rasanya bergabung bersama keluargaku lagi keluarga yang harmonis. Tak hanya itu mama juga memberi tahu bahwa dia akan berhenti bekerja, yang disambut senyum puas oleh Papa. Secara tidak langsung mama akan memeperbanyak waktu untuk bersamaku. Hatiku semakin menggebu-gebu ingin cepat-cepat kembali pada tubuhku. ‘Sabar Bintaang hanya tinggal malam Jumat ke 13′

Malam Jumat ke 13
Inilah penghujung dari penantian panjangku, Hari ini aku akan berkumpul bersama keluargaku lagi, tak sabar rasanya menanti Umang datang. Tapi aku akan setia menunggu disini, mungkin Umang sedang mengucapkan kata perpisahan dengan orangtuaku.

2 jam aku menanti disini tapi Umang tak kunjung datang, aku mulai lelah menantinya. Bukit ini masih seperti biasa ramai dengan makhluk dari alam lain, tapi sepertinya aku mulai terbiasa dengan kehadiran mereka, walau aku masih sering kaget jika bertemu mereka dalam keadaan yang tak menguntungkanku setidaknya aku lebih berani dibanding pertama kali aku melihat mereka. Aku masih menunggu di bukit ini, sesekali aku berbaring di atas rumput untuk membuang kejenuhan, merasa Umang tak juga datang akhirnya aku memutuskan untuk datang menjemputnya.
“Umang” panggilku pada Umang yang tengah makan malam bersama keluargaku, Umang menghentikan aktifitas makannya, meminta izin pada orangtuaku untuk keluar
“Tanggal berapa ini?” kataku tersulut emosi
“22″ kata Umang santai
“Kau lupa dengan perjanjian kita? Aku menunggumu di bukit sejak 2 jam yang lalu
“Aku tidak lupa, tapi aku hanya tidak ingin bertukar tempat denganmu, aku telah bahagia bersama keluarga ini”
“Apa? Kau melanggar perjanjian kita”
“Aku tak pernah berjanji kembali ke tubuh jelekku itu, aku hanya berjanji mempersatukan kembali keluargamu yang sekarang menjadi keluargaku”
“Kau tak bisa seenanknya Umang, kembalikan tubuhku”
“Tidak, lebih baik kau pergi” Umang berlalu meninggalkanku sendri “Ini keterlaluan” batinku.

Aku berlari dengan susah payah menuju bukit, aku ingin berteriak mengeluarkan semua kekecewaanku, mengapa harus berakhir seperti ini? Wahai dewa Neptunus. Sekarang apa lagi yang kau perbuat kepadaku. Tiba-tiba aku mendengar suara gemeresak dari belakangku. Aku melihat makhluk sedang menggaruk-garuk tanah, aku mendekatinya
“Hai apa yang kau lakukan?” Tanyaku, ia menoleh dan terkejut melihatku
“Anakku” katanya lalu berhambur memelukku
“Apa-apaan ini?” aku mencoba berontak
“Kau Umang kan? Ini bapakmu nak” katanya terharu. Aku terkejut mendengarnya, segera aku mengajaknya datang ke rumahku agar ia bisa bertemu dengan Umang, aku menjelaskan semuanya secara runtut hingga akhirnya ia mengerti.

“Umaang” ucapku berteriak di pekarangan rumahku, tak ada jawaban aku kembali memanggilnya hingga pintu rumah terbuka.
“Umang” ucap sosok yang mengaku sebagai bapaknya Umang, ku kira itu memang benar. Karena fisik mereka tak jauh berbeda. Umang menganga melihatnya. Sepertinya ia mengenali makhluk itu.
“Bapak” gumamnya
“Ya, kemarilah nak” ucap sang bapak
“Tidak pak aku telah bahagia bersama keluarga ini” kata Umang berat
“tak boleh begitu nak, kita punya alam masing-masing, kita punya kehidupan sendiri jangan kau ganggu kehidupan manusia. Yakinlah kita bisa bahagia tanpa menganggu kehidupan orang lain”
Sang bapak menjatuhkan bulir air matanya. Disusul Umang yang ikut menangis dan langsung berhambur memeluk bapaknya.

“Sekarang kembalikan tubuh anak ini” kata sang Bapak bijak, Umang hanya mengangguk
“Bintang, kau ingat kan cara pertukaran tubuh kita kemarin?” Kata Umang menatapku, aku mengangguk. Segera aku memejamkan kedua mataku, masih dengan mantra yang sama Umang mulai mencoba menukar tubuh kami kembali. Tiiing ting ting tiiiing gemerincing lonceng mengakhiri mantra Umang.
Perlahan aku membuka mataku, senangnya hati ini melihat Umang ada di hadapanku, yang menandakan bahwa aku telah kembali pada tubuhku. Aku meriksa kembali bagian-bagian tubuhku aku mengecek wajahku ‘masih sama seperti semula tak ada yang berubah’. Setelah pertukaran tubuh itu terdengar bunyi gemuruh, sepertinya hujan akan turun. Aku menyambut hujan dengan bahagia. Umang menatapku senang lalu ia merentangkan tangannya mengisyaratkan aku agar memeluknya, aku tersenyum dang langsung memeluknya “Terimakasih” ucapku bahagia “Kembali bintang, terimakasih telah mempertemukanku dengan bapakku” katanya lalu melepaskan pelukannya.

Aku berlari menuju rumahku dengan pakaian yang sudah basah terguyur hujan, aku mendapati sosok mama yang tengah merapihkan meja makan, aku langsung memeluknya dengan perasaan yang menggebu-gebu.
“Hey kenapa kamu sayang” ucap mamah terkejut
“Aku Kangen Sama Mama” kataku mempererat pelukanku.
“Loh setiap hari juga kamu ketemu mama” ucap mamah mengusap rambutku sayang
“iya, tapi hari ini aku kangen banget sama mama” kataku masih memeluk mamah
“yasudah sekarang kamu ganti baju dulu gih tuh bajunya basah gitu, nanti kalau kamu sakit gimana?”
“Iya mah” ucapku tersenyum pada mamah lalu pergi menuju kamar kesayanganku.

The End
Cerpen Karangan: Echa Prahmana Reza
Facebook: Echa Prahmana Reza
Terimakasih telah membaca cerpen abal sayaa semoga bermanfaat, silahkan hubungi saya melalui twitter saya @Echoonggg_ atau email saya echareza9[-at-]gmail.com



Sumber 

 Lagi Kisah Seram: Ghost Stories Club 

Tiada ulasan:

Catat Ulasan